Mengejar pelangi terurai kala senja, menunggu bidadari turun seiring cahaya mentari yang dibiaskan kaki-kaki hujan sore. Ada suara lirih menghembus bersama laku kepak camar di kejauhan. Gemuruh rupa kabut yang tak sabar tuk turun menuliskan kerinduan ku di atas goresan-goresan daun.
Tentang rinduku tlah membentuk wajah-wajah asingmu yang terus menggoreskan udara-udara ketika ku hirup, mengisi rongga dalam jiwa. Menebarkan bayang-bayang khyal ditiap sudut ruang.
Rinduku adalah sepercik cahaya berpijar yang sempat hilang dari tatapan mata kita ketika beradu berpadu. Ada bahasa isyarat yang terlepas dari pandanganmu dan terus menyuarakan kidung kerinduan. Dan aku tak sanggup lari dari penjara jiwa ini. Seakan ada peri-peri kecil yang tak henti meniupkan pesona-pesona rona wajahmu.
Aku lumpuh dijerat auramu, hanya dengan kalimat sederhana aku coba menyapa mimpi-mimpimu yang hening tuk sekedar ucapkan salam rindu yang makin merayu.
Rinduku padamu adalah seperti rindu anak-anak kecil pada tetesan air hujan, ketika semerbak bunga-bunga kuncup mulai bermekaran mengikuti alunan musim oleh kehendak-kehendak alam.
Rinduku padamu adalah rindu ingin bertemu dimana aku bisa menatap wajahmu, dimana bisa kudengarkan suara-suara lembutmu.
: sahabatku yang selalu kurindukan tawamu